Aktualisasi Diri Tokoh Dunia

Aktualisasi Diri Tokoh Dunia

Abraham Maslow meneliti tokoh-tokoh dunia yang disebut orang-orang luar biasa. Tokoh-tokoh tersebut antara lain, George Washington, Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Albert Einstein, Eleanor Roosevelt, Goethe, D.T. Susuki, Benyamin Franklin, William Russel, Jane Addams, William James dan tokoh-tokoh dunia lainnya. Orang-orang tersebut disebut teraktualisasi dirinya. Ciri paling universal dan umum dari tokoh-tokoh tersebut adalah kemampuan mereka melihat hidup dengan jernih, melihat hidup apa adanya bukan menurut keinginan mereka, bersifat sabar, bersifat lebih obyektif terhadap hasil-hasil pengamatan mereka, hasrat pribadi tidak menyesatkan pengamatan mereka, mempunyai kemampuanjauh di atas rata-rata dalam hal menilai orang secara tepat dan dalam menyelami kepalsuan. Umumnya, pilihan pasangan mereka dalam perkawinan jauh lebih baik daripada rata-rata, sekalipun tidak sempurna.

Berkat persepsi mereka yang ampuh, tokoh-tokoh yang teraktualisasi diri ini lebih tegas dan memiliki pengertian yang lebih jelas tentang yang benar dan yang salah. Mereka lebih jitu meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Kemampuan melihat secara efisien, menilai secara lebih tepat pada orang-orang yang “manusiawinya penuh” ini ternyata merembes pula ke banyak kehidupan lainnya, berupa pemahaman bukan hanya atas orang tetapi atas seni, musik, masalah-masalah politik dan filsafat. Tokoh-tokoh tersebutmampu menembus dan melihat realitas-realitas tersembunyi serba membingungkan secara lebih gesit dan lebih tapat dibandingkan rata-rata orang.

Namun demikian, mereka memiliki sifat rendah hati, mampu mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran, mau mengakui bahwa mereka tidak tahu segalanya dan mau belajar dari orang lain. Orang lain akan mampu mengajari mereka sesuatu. Persepsi yang ampuh ini sebagian lahir dari dan dalam pemahaman lebih baik tentang diri sendiri. Konsep ini dapat juga dilukiskan sebagai sifat lugu pada anak-anak serta tiadanya kesombongan. Anak-anak sering mendengarkan tanpa prakonsepsi atau penilaian sebelumnya. Seperti anak-anak yang memandang dunia dengan mata lebar, jauh dari kritik dan tanpa dosa, mengamati persoalan apa adanya, tanpa mempermasalahkan perkara atau menuntut perkara.

Allah :”Wahai Musa apakah engkau mengerti mengapa aku berbicara langsung kepadamu”. Musa : ”Engkau Maha Tahu tentang itu semua”. Allah : ”Aku mengetahui setiap hati manusia, tetapi tidak pernah melihat hati yang lebih rendah hati seperti hatimu, karena itulah aku berbicara langsung denganmu”. Demikialah firman Allah yang diriwayatkan Kaa’ab Al-Ahbar.

Comments are closed.