Belajar dari Sopir Taksi (1)

Belajar dari Sopir Taksi (1)

Setelah selesai saya mengikuti seminar Internasional di Universitas Airlangga Surabaya, saya berjalan menuju jalan di luar kampus. Di jalan tersebut ada dua taksi yang sedang menunggu penumpang. Salah seorang sopir taksi tersebut memberi tahu kawannya kalau ada penumpang. Sampai kawannya menyuruh dia, pastilah ia disukai oleh kawannya, sampai kawannya tidak mau merebut penumpangnya. Begitu saya memberi tanda butuh taksi, taksi tersebut mendekati saya dan mempersilakan saya untuk masuk. “Ke mana pak?” tanyanya. “Bandara mas,” jawab saya. Sopir taksi kali ini berbeda dengan sopir taksi biasanya. Sopir taksi ini banyak berbicara dan bercerita tentang perusahaannya, tentang pekerjaannya dan tentang keluarganya. Saya melihat pada kartu di jok mobil tulisan ‘Triono’. Langsung saya bertanya “Mas Triono asalnya dari mana?”. “Dari Surabaya pak. Tetapi istri saya dari Ponorogo” jawab Mas Triono. “Oh kalau begitu sama dengan asal Ibu saya,” saya menyahut. “Oh ibu bapak dari Ponorogo,” sahut Mas Triono. Kemudian saya melanjutkan pertanyaan “Putranya berapa Mas?”. “Dua pak” jawabnya ringkas. “Sudah berapa lama Mas Triono bekerja sebagai sopir taksi?” Dua tahun pak”. “Sebelumnya bekerja di mana?” “Di Malaysia pak, di kebun kelapa sawit” jawabnya. Kemudian saya bertanya “Bagaimana perasaan bekerja sebagai sopir taksi?”

Sopir taksi tersebut mulai bercerita tentang perusahaan. Ia bercerita tentang perusahaannya, sebelum ia bekerja sebagai sopir taksi “Dulu saya bekerja di Malaysia pak. Saya digaji 1.000 ringgit per bulan atau sekitar Rp 2,5 juta, memang besar Pak, tetapi beli apa-apa juga mahal. Ketika saya pulang saya hanya membawa sisa Rp 2,5 juta saja. Saya ikut orang Melayu. Orangnya baik sekali pak. Saya di sana bekerja keras Pak. Di Malaysia, pekerja dari Indonesia itu lebih disukai, karena pekerja Indonesia lebih sregep dibandingkan pekerja dari Malaysia. Tetapi kalau kita ketahuan polisi Malaysia kita bisa ditangkap. “Haram… haram…” katanya. Tetapi setelah saya kasih uang dia bilang ‘halal’. Meskipun pendapatan saya besar, tetapi saya lebih senang bekerja di Indonesia, pak. Saya ingat anak dan istri saya. Anak saya ketika saya tinggal masih kecil-kecil. Ketika saya pergi ke Malaysia saya tidak pamit anak saya pak, sebab kalau saya pamiti, anak saya pasti nangis. Saya limpe pak. Saya sendiri sebetulnya juga menangis meninggalkan anak saya. Meskipun saya sekarang hanya jadi sopir taksi. Saya senang bekerja di perusahaan ini Pak. Kalau selama satu bulan saya dapat setor 13 kali dengan setoran Rp 300.000 maka saya mendapat bonus beras pak. Kalau saya dapat setor 15 kali bonusnya ditambah uang   Rp 50.000 bahkan kalau 18 kali bonusnya ditambah lagi dengan sembako Pak. Kalau sampai dapat sembako pak, saya bangga pulang ke rumah, karena semua keperluan rumah tangga sudah tidak pusing lagi. Dengan seperti ini saya dan kawan-kawan merasa dihargai, sehingga termotivasi untuk bekerja keras pak”.
Ternyata sembako bagi sopir taksi telah menjadi alat motivator yang ampuh. Kita telah belajar dari sopir taksi yang bercerita tentang perusahaannya dalam memotivasi karyawan agar tetap bekerja keras dan bersemangat. q – k

*) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.

Comments are closed.