Mewujudkan Sinergi

Mewujudkan Sinergi

Sesudah bangunan Ka’bah yang rusak, diperbaiki setinggi orang berdiri, tiba gilirannya untuk meletakkan Hajar Aswad yang disucikan di tempatnya semula di sudut timur, maka timbullah perselisihan di kalangan Quraisy, siapa yang seharusnya mendapat kehormatan meletakkan batu itu di tempatnya. Demikian memuncaknya perselisihan itu sehingga hamper saja timbul perang saudara karenanya. Keluarga Abd’d Dar dan keluarganya ‘Adi bersepakat tidak akan membiarkan kabilah manapun campur tangan dalam kehormatan yang besar ini. Untuk itu mereka mengangkat sumpah bersama. Keluarga Abd’d Dar membawa sebuah baki berisi darah. Tangan mereka dimasukkan ke dalam baki itu guna memperkuat sumpah mereka. Karena itu lalu diberi nama La’aqat’d-Damm, yang berarti jilatan darah.

Abu Umayya bin’l-Mughira dari Banu Makhzum merupakan orang yang tertua di antara mereka, dihormati dan dipatuhi. Setelah melihat keadaan serupa itu ia berkata kepada mereka ”Serahkanlah putusan kamu ini di tangan orang yang pertama sekali memasuki pintu Shafa ini”. Tatkala mereka melihat Muhammad adalah orang pertama memasuki tempat itu, mereka berseru : ”Ini al-Amin, kami dapat menerima keputusannya”. Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepadanya. Iapun mendengarkan dan melihat di mata mereka betapa berkobarnya api permusuhan itu. Ia berpikir sebentar, lalu berkata ”Kemarikan sehelai kain”. Setelah kain dibawakan, dihamparkannya dan diambilnya batu itu lalu diletakkannya dengan tangannya sendiri, kemudian Muhammad berkata ”Hendaknya setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini”. Mereka bersama-sama membawa kain tersebut ke tempat batu itu akan diletakkan. Lalu Muhammad mengeluarkan batu batu itu dari kain dan meletakannya di tempatnya. Dengan demikian perselisihan itu berakhir dan bencana dapat dihindarkan. Muhammad melakukan apa yang dalam manajemen disebut berfikir menang-menang yang dapat mewujudkan sinergi.

Pengalaman juga mengajarkan kepada saya, ketika akan mengadakan seminar yang ditujukan kepada anak-anak SLTA tentang ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pembicara baru memberitahu kesediaannya ketika waktu tinggal satu minggu. Seminar rencananya diadakan pada hari Sabtu. Setelah seluruh persiapan telah selesai, pada Rabu pagi jam 10.00 wib, saya mengumpulkan staf saya untuk mendengarkan pendapatnya agar peserta seminar tersebut, banyak pesertanya. Saya telah menulis sepuluh strategi dalam satu lembar kertas untuk mendatangkan peserta. Tetapi strategi tersebut saya simpan di atas meja tanpa seorang stafpun yang tahu.

Setelah seluruh staf saya kumpul, kemudian saya meminta ide dari staf saya. “Kawan-kawan saya mohon ide dari Anda, bagaimana agar seminar kita Sabtu besok banyak pesertanya. Kita tinggal punya waktu 3 hari”. “Pak Yanto. Kita pasang iklan di koran” kata staf saya yang pertama. ”Bagus ” puji saya, sambil mencoret salah satu strategi saya yang ada di lembar kertas. ”Pasang iklan di radio” kata staf saya yang kedua. ”Bagus ” puji saya, sambil mencoret lagi salah satu strategi saya yang ada di lembar kertas. ”Kita kerjasama dengan asrama mahasiswa” kata staf saya yang ketiga. ”Bagus ” puji saya, sambil mencoret ketiga strategi saya yang ada di lembar kertas. ”kerjasama dengan bimbingsan tes” kata sta saya yang ketiga. Saya juga melakukan hal yang sama, menghargai ide mereka sambil mencoret ide saya yang sama dengan ide mereka. Saya tidak mengatakan bahwa ide mereka sama dengan ide saya, tetapi saya mencoba menghargai ide mereka, saya seakan-akan tidak punya ide meskipun ide saya telah saya tulis dalam selembar kerta. Saya mengatakan kepada staf saya semua untuk menjalankan idenya masing-masing. Luar biasa, saya tidak menduga kalau jumlah peserta seminar akhirnya melampaui 1000 peserta. Saya hanya memadukan dan menghargai ide mereka. Itulah yang disebut sinergi, yang merupakan rahasia sukses perusahaan.

Comments are closed.