Araba Gurun-Petra

Araba Gurun-Petra

Arabia Gurun dihuni oleh suku pengembara di Akkadian yang disebut Aribi, seringkali menyerbu Negara sekitarnya, misalnya Arabia Felix dan Mesopotamia, yang mereka kadangkala memperoleh kemenangan. Untuk memahami orang terisolasi yang dikenal sebagai orang tanpa sejarah dibutuhkan kerja keras, meskipun demikian mereka dikenal sebagai penunggang unta pada abad ke sepuluh atau kesembilan sebelum Masehi (SM). Pada 250 SM berbagai suku Arabia mulai bergerak menuju Levant. Suku yang tercatat tersebut adalah suku Qedar dan Nabatu yang membuat jalan ke wilayah Edomit, Moabite dan Yahudi. Pada periode Parthian dan Romawi, beberapa dinasti Arabia menguasai kota di Syam (Syiria) dan Irak. Kota tersebut antara lain Palmyra, Emesa, Edessa, Hatra, Chacene dan Gerrha. Sementara itu orang modern umumnya berfikir bahwa penduduk dari Semenanjung Arabia sebagai Arab, para ahli sejarah kuno seringkali merujuk orang-orang ini dengan nama suku mereka secara langsung. Ini merupakjan hal yang sangat penting untuk menemukan siapa orang Arab yang sesungguhnya.

Orang Arab Petra tinggal di antara Mesir dan Mesopotamia, yang akhirnya menetap dari pengembaraan sebagai cara hidup mereka, membangun beberapa kota. Orang yang utama di daerah ini adalah orang Nabasia dan Petra sebagai ibukota mereka. Referensi tertua untuk orang Arab dapat ditemukan dalam kitab Injil Genesis, dimana pedagang Arab jual beli dengan Josep anak Jacob. Referensi lainnya ditemukan di laporan perang Raja Assyirian Salmanasser pada 853 SM dan laporan tentang sebuah kerajaan yang bernama Aribi, yang disebutkan dari Tiglath- Pileser III (745 – 727 SM) ke depan dan pengikut Asssyrian sampai pertengahan kedua abad ketujuah. Kemudian, Arab ditundukkan oleh raja Babilonia Nabonidus, yang membuat oase Tema menjadi ibukotanya dan mencapai Yatribu (Medina). Menurut peneliti Yunani, Herodotus, raja Persia Cambyses tidak menduduki Arab ketika menyerang Mesir pada 525 SM. Penggantinya, Darius I tidak menyebutkan Arab dalam prasasti Behistun dari tahun pertama pemerintahannya, tetapi menyebutkannya dalam akhir catatan. Halini menunjukkan bahwa Darius hanya menundukkan sebagian dari wilayah Arabia. Tidak ada petunjuk yang menunjukkan loyal atau tidak loyal terhadap terhadap raja Persia. Setelah raja Macedonia Alexander yang Agung menaklukkan kekaisaran Persia antara 335 sampai 323 SM, bagian dari Arabia yang tersisa lebih atau kurang otonomi selama berabad-abad. Pada 106 Masehi (M), bagian Arabia berhubungan dengan Yordan yang dijadikan provinsi kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan Trajan. Ada beberapa kota dalam propinsi ini mulai dari utara menuju keselatan, Adraa (Dara’), Dion, Gerasa (Jerash), Philadelphia (amman) dan Aila (Aqaba). Selama periode Romawi, sejarawan Josephus dan Strabo dengan bebas mencampuradukkan penggunaan kata Arab dengan Nabasia dan sebaliknya raja Nabasia dikenal sebagai raja Arab dan kerajaan mereka dikenal sebagai Arabia. Maka ini hanyalah kesesuaian Kerajaan Nabasia menjadi Provinsi Arabia, yang memasukkannya ke Kekaisaran Rowawi. Meskipun, kendali rute laut oleh Himyar sangat meyakinkan. Pada akhir abad ketiga, raja Samir Yuhar menyatukan Yaman. Ia menganggap cukup penting untuk bernegosiasi dalam kestaraan dengan raja Kekaisaran Persia.

Comments are closed.