Belajar Menjadi Entrepreneur dari Levi Strauss

Belajar Menjadi Entrepreneur dari Levi Strauss

By M. Suyanto

Untuk menjadi entrepreneur kita dapa belajar dari Levi Strauss. Levi Strauss datang dari Bavaria. Ia tiba di New York pada 1847 dan bekerja sama dengan saudara tirinya dalam bisnis barang-barang yang dikeringkan. Pada 1853 Strauss pergi ke San Francisco untuk membangun bisnisnya sendiri. Kesempatan datang ketika salah seorang pelanggannya, penjahit Nevada bernama Jacob Davis, memperlihatkan sebuah ide dalam mengubah celana panjang pria. Hasilnya celana panjang yang kuat dan tahan lama, cocok dipakai bila Anda seorang penambang emas ataupun petani. Davis membutuhkan $68 untuk mendaftarkan hak paten desain itu. Pada 1873 Strauss dan Davis mempatenkan celana panjang tersebut, atau “waist-high overall” sebutannya ketika itu. Perusahaan semakin makmur dan ketika ia meninggal, perusahaan Levi Strauss mempunyai kekayaan $6 juta.

Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan terjadi pada 1906, yaitu ketika terjadi gempa bumi diikuti kebakaran yang menghancurkan kantor pusat perusahaan dan dua pabriknya. Tindakan yang dilakukan Levi Strauss memberikan kredit pada pelanggan grosirnya sehingga mereka dapat bangun dan kembali berbisnis. Perusahaan tetap membayar pegawai-pegawainya dan sebuah kantor sementara serta showroom terbuka untuk memberi mereka sesuatu untuk dilakukan, sementara kantor pusat baru dan sebuah pabrik dibangun. Pada saat depresi besar, ketika itu CEO Walter Haas Sr. Tetap mempekerjakan karyawan-karyawannya dengan menyuruh mereka membangun lantai baru di pabrik perusahaan di Valencia Street di San francisco dan bukannya memberhentikan mereka. Ia beragumentasi bahwa tenaga kerja yang diberi kuasa, orang-orang yang berbagi nilai-nilai dan aspirasi yang sama dengan perusahaan seperti manajer-manajer dan pemilik, akan membuat perusahaan menjadi pemimpin pasar. “Anda tak dapat membuat orang bersemangat atau mendapatkan dukungan mereka kecuali organisasi tersebut memiliki jiwa “kata Haas. Kemudian memberikan kesempatan yang sama bagi orang Afrika-Amerika untuk bekerja di pabrik pabriknya pada 1950-an dan 1960-an, ketika mereka mengembangkan bisnisnya ke negara-negara selatan. Sejalan dengan perkembangan bisnisnya, komunitas masyarakat yang menganut tradisi mereka berkembang bersamaan. Levi-Strauss sekarang mendapatkan 40 persen keuntungannya dari bisnis internasional dan produk pabrik di lebih dari 50 negara seluruh dunia. Seperempat pegawainya bekerja di luar Amerika Serikat. Levi Strauss memilih berbuat mulia untuk melambungkan usahanya dengan tetap memperkerjakan karyawannya ketika perusahaan dalam kesulitan. Dengan berbuat mulia barangkali Tuhan ikut membantu.

Comments are closed.