Jiwa Entrepreneur Kaum Nabasia (3)

Jiwa Entrepreneur Kaum Nabasia (3)

By M. Suyanto

Pada periode 20 SM – 106 M, Kaum Nabasia menjual kekuasaannya kepada Romawi dan menjadi warga Romawi dengan harapan tetap memonopoli bisnis di Asia Timur. Kaum Nabasia, yang beribu kota di Petra, mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Uadest” IV (9 S.M hingga 40 M).

Pada awal abad satu Masehi, wilayah al-Hijr; (Mada’in Salih) di sebelah utara Hijr bisa di pastikan termasuk dalam wilayah kerajaan Nabasia seperti yang terbukti dari berbagai tulisan di sana. Rabbil II adalah raja kerajaan Nabasia pada periode 70-106 M. Pada 105 M. Raja Traya mengakhiri otonomi orang-orang Nabasia dan pada tahun berikutnya daerah mereka menjadi salah satu provinsi Romawi. Setelah Diodorus, Yosephus adalah sumber pertama informasi tentang orang-orang Nabasia, tapi Yosephus tertarik untuk membahas mereka bertentangan dengan orang-orang Ibrani. Baginya, Arab adalah kerajaan Nabasia yang membentang ke arah timur hingga Eufrat. Malchus atau Malichus (dalam bahasa Arab, Malik), yang disebut oleh Yosephus sebagai “raja Arab” yang menjadi sahabat Herod dan ayahnya, dan Malchus lainnya (Malchus II, 40-70 M.) yang sekitar 67 M. Mengirimkan 1.000 ekor kuda dan 5.000 pasukan untuk membantu Titus menyerang Yarusalem, adalah orang-orang Nabasia. Dalam Makkabee 5: 25 ; 5 8, orang-orang Nabasia disamakan dengan orang-orang Arab Orang-orang Badui dari suku Huwaythat modern dianggap sebagai keturunan bangsa Nabasia.

Kota Petra mencapai puncak kekayaan dan kemakmurannya pada abad pertama Masehi, ketika menjadi negara protektorat Romawi, yang memperlakukannya sebagai tameng untuk menghadapi Persia. Ketiga sisi kota yaitu sisi timur, barat dan selatan, dijaga dengan sangat ketat. Di ketiga sisinya, kota itu dipagari oleh dinding batu cadas berpahat indah. Tebing yang tinggi, curam dan hampir tidak dapat ditembus mengelilingi kota dan menyiasati sedikit lorong yang sempit dan berliku.

Petra merupakan satu-satunya kota yang terletak antara Yordania dan Arab Tengah yang memiliki sumber air yang tidak hanya berlimpah, namun juga sangat murni. Kaum Nabasia mempunyai sistem dalam mengelola air. Mereka mengembangkan sistem untuk mengumpulkan air hujan dengan menggunakan saluran air, pipa dan penampung air di bawah tanah.

Di sinilah perjalanan kafilah orang-orang Arab Selatan ke arah utara memperoleh tempat peristirahatan yang sejak untuk unta dan pengendarannya. Jadi, orang-orang Nabasia merupakan penghubung penting dalam mata rantai bisnis yang membuat makmur kawasan Arab Selatan. Reruntuhan Petra yang menakjubkan itu masih banyak turis dan merupakan sumber pendapatan penting bagi negara Yordania. Petra memiliki tempat ibadah sejenis Ka’bah dilengkapi dengan Dusyara (Dusares), batu hitam berbentuk persegi panjang, yang disembah dan diletakkan di bagian depan kuil, Allat, yang disebut sebagai Aphrodite Urania oleh Herodotus, adalah Tuhan perempuan paling utama. Dusyara (dzu-Syara, yaitu : Tuhan Syara) kelak diasosiasikan dengan tanaman anggur, yang diperkenalkan ke negeri Nabasia pada masa Helenistik, dan dipuja sebagai Tuhan anggur suatu tradisi yang diambil dari kebiasaan bangsa Dionysus Bacchus.


Comments are closed.