Belajar menjadi Entrepreneur dari Kaum Aad

Belajar menjadi Entrepreneur dari Kaum Aad

By M. Suyanto

Kaum ‘Aad mempunyai kemampuan entrepreneur yang tangguh. Kaum ‘Aad atau ‘Ad merupakan suku Arab kuno yang dipimpin oleh ‘Ad ibn Kin’ad. Menurut Muhammad bin Ishaq, kaum ‘Aad tinggal di daerah Al Ahqaf, daerah sebelah barat Oman dan sebelah timur Yaman, membentang dari Laut Arab sampai Pegunungan Dhofar dan pinggiran Rub` al-Khali.


Kaum ‘Aad, baik sebagai suku atau kelompok, dengan pemimpin Ad bin Kin’ad hidup dari 2400 SM sampai 1000 SM, Aldan Khuljan yang dikenal dengan kaum Persia dan Hadramaut hidup dari 400 SM sampai 300 SM dan Shaddad yang dikenal dengan kaum Himyar sebagai pemimpin terakhir kaum ‘Aad hidup dari abad pertama Masehi sampai abad keenam Masehi.

Menurut Ptolomeus, bangsa ‘Aad beribukota di Iram, Ubar, Wabar atau Kota Seribu Pilar. Iram merupakan pusat kota perdagangan padang pasir Rub` al-Khali di bagian selatan Semenanjung Arabia. Pusat perdagangan di kota ini berlangsung dari abad ke-3 SM sampai abad pertama Masehi. Perdagangan yang dilakukan oleh kaum ‘Aad bertumpu pada perdagangan kemenyan (frankincense) yang pada waktu merupakan produk yang harganya mahal. Menurut catatan sejarah, hal tersebut menjadi orang-orang ‘Aad memperoleh kekayaan yang luar biasa dari perdagangan dengan daerah pesisir dan merupakan pusat penduduk di Timur Tengah yang sejajar dengan Eropa. “Dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan dunia” (Al Mukminun : 33).

Hasil perdagangan tersebut mampu membuat membuat bangunan-bangunan tinggi yang menjulang yang belum pernah dibangun oleh kaum lain. Hal ini disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Fajr ayat 6-8 : Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhan berbuat terhadap kaum ‘Aad?. (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun(suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain.

Kaum ’Aad hidup pada masa Nabi Hud dan kaum ’Aad sebagai penyembah berhala dan kaum yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kemudian Allah SWT mengutus Nabi Hud untuk menyembah Allah kepada mereka. Dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 65 : Dan (Kami telah mengutus), kepada kaum ’Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya. Dalam surat Huud ayat 50-52 : Dan kepada kaum ’Aad (Kami telah mengutus) saudara mereka, Hud. Ia berkata “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidaklah kamu memikirkan(nya). Dan (dia berkata): ”Hai kaumku mohonlah ampunan pada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

Kaum ’Aad yang disebutkan dalam Al-Qur’an ini, adalah kaum yang menolak ajakan Nabi Hud untuk menyembah Allah dan tidak mempercayai perkataan Nabi Hud. Bahkan pemimpinnya yang kafir menganggap Nabi Hud adalah kurang akal dan berdusta. Al-Qur’an surat Al A’raaf ayat 66 : Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ”Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”.

Kemudian Nabi Hud menjawab pertanyaan pemuka-pemuka kafir dan mengingatkan nikmat yang diberikan Allah dengan melebihkan kekuatan tubuh dan perawakannya, seperti dijelaskan dalam surat Al A’raaf ayat 67-69 : Hud berkata : ”Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Ditegaskan pula dalam surat Huud ayat 53-57 : Kaum ’Aad berkata: ”Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Hud menjawab : ’Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan. Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku. Tidak ada binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling,maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu, dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu”. Dalam surat Al A’raaf ayat 70-71 : Mereka berkata : ”Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. Ia berkata : ”Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu”. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga menunggu bersama kamu”.

Kaum Hud yang kaya dan perkasa yang sedang menunggu janji Allah tersebut mulai diberi cobaan dengan kekeringan, langit tidak lagi menurunkan hujan. Kekeringan itu tidak mengubah kaum Hud untuk menyembah Allah, mereka tetap saja menyembah berhala. Akhirnya datanglah azab dari Allah. Al Qur’an surat Al Haqqah ayat 7 menyebutkan : Adapun kaum ’Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus maka kamu lihat kaum ’Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)

Sedangkan orang-orang dari kaum ’Aad yang menyembah Allah SWT diselamatkan seperti firman Allah surat Hud ayat 66-68 : Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan itulah kisah kaum ’Aad mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan begitu pula di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ’Aad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaan bagi kaum ’Aad (yaitu) kaum Hud itu (Hud : 66-68).

Comments are closed.