Suyanto Consulting

Strategi Menahan Marah

Ketika saya masih mahasiswa, saya memasuki toko buku. Saya akan membeli pulpen dengan cara memilih beberapa pulpen yang ada. Begitu saya tarik pulpen dari tempatnya, pulpen yang lain terjatuh. Saya mengambil pulpen yang jatuh itu, kemudian mengembalikan ke tempat semula. Pemilik toko tersebut memarahi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak jadi membeli pulpen dan pemilik toko tersebut tambah marah, kemudian saya meninggalkan toko tersebut. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi ke toko tersebut, karena takut kalau dimarahi lagi. Demikian juga ketika saya terlupa membayar tagihan kartu kredit salah satu Bank Asing, saya diberi surat dengan nada marah dan tidak mengenakkan, seakan-akan saya sebagai pelanggan yang tidak bertanggungjawab. Saya langsung menutup dua kartu kredit dari bank tersebut. Pada hal saya telah memiliki kartu kredit tersebut lebih dari 7 tahun dan selama itu saya menjadi pelanggan yang baik. Sejak saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak mempunyai kartu kredit lagi, untuk menjaga agar saya tidak diperlakukan seperti itu lagi. Kesalahan dari penagihan ini menurut saya sangat fatal.

Meskipun demikian kepada bagian pemasaran Bank Asing yang mendatangi saya lagi, saya memberikan saran untuk tidak mengulang kesalahannya. Cukup saya saja yang menjadi korban. Kemarahan dapat membuat pelanggan meninggalkan perusahaan dan tidak kembali lagi. Pada hal untuk mendapatkan pelanggan yang setia tidaklah mudah. Untuk mendapatkan pelanggan yang baru dibutuhkan berbagai macam strategi karena persaingan yang sangat kompetitif.
Dalam kisah Ramayana, Rahwana atau Dasamuka merupakan raja yang bijak dengan sepuluh kepala di pundaknya. Meskipun demikian keberhasilan-keberhasilannya telah membunuh kerendahan hatinya dan membunuh sejumlah besar kebajikannya. Karena murkanya, ia membuat kekeliruan yang menyebabkan kerugian yang tak terhingga bagi dirinya dan yang dekat darinya serta yang dicintainya. Kemarahan dapat mengalahkan kebijakan dari Rahwana, yang berakhir pada pertempuran yang menewaskan banyak rakyatnya dan dirinya sendiri. Andaikan Rahwana mau menahan marahnya dan mendatangi Rama untuk mendengar cerita dari sisi Rama, niscaya pertumpahan darah itu tidak akan terjadi. Tetapi Rahwana tidak melakukan hal itu, karena merasa ia merasa lebih sakti, pasukannya lebih kuat dan persenjataannya lebih lengkap, maka ia mengumbar kemarahannya.. Sebaliknya Rama merupakan raja yang mampu menahan amarahnya, meskipun hanya dibantu pasukan kera dengan persejantaan yang terbatas. .
Menurut Promod Batra dalam bukunya Born To Win, menganjurkan untuk belajar dari sebatang korek api yang sederhana. Korek api mempunyai kepala, tidak punya otak. Oleh karena itu setiap gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala, tetapi kita juga punya otak. Kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil. Dengan menggunakan otak, kita dapat membantu mengurangi kemarahan dan menjadi bebas stres. Karena untuk setiap 10 menit kemarahan, kita kehilangan 600 detik kebahagiaan. Dari Abu Darda’, “Aku berkata : Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang memasukkan aku ke dalam surga”. Rasulullah bersabda “Jangan marah, kamu akan masuk surga.”

Leave a Reply