Pemimpin Calon Penghuni Surga

Dalam buku At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Al-Ghazali memberikan nasihat kepada para pemimpin dengan 10 pokok nasihat. Pertama, pemimpin harus mengetahui kedudukan dan pentingnya kekuasaan. Sesungguhnya kekuasaan adalah sebagian nikmat dari Allah. Siapa saja yang menjalankan kekuasaan dengan benar, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang tidak ada bandingannya, dan tidak ada kebahagiaan yang melebihi itu. Siapa yang lalai dan tidak menegakkan kekuasaan dengan benar, maka ia akan mendapat siksa karena kufur kepada Allah. “Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun “ sabda Rasulullah.

Kedua, senantiasa merindukan petuah para ulama dan gemar mendengarkan nasihat mereka. Hati-hati dengan ulama yang menyukai dunia. Mereka akan memperdayaimu, mencari kerelaanmu untuk mendapatkan apa-apa yang ada di tanganmu berupa hal-hal yang buruk dan haram agar mereka mendapatkan sesuatu dengan maker dan tipu daya. Orang yang berilmu adalah orang yang tidak menginginkan hartamu, dan orang yang senantiasa memberimu wejangan serta petuah. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Muhammad bin Ka’ab al-Qurzhi “Terangkanlah kepadaku tentang keadilan”. Dia menjawab “Siap muslim yang usianya lebih tua darimu, jadikanlah sebagai orang tua. Siapa saja yang usianya lebih muda darimu, jadikanlah sebagai anak. Siapa saja yang usianya sama , jadikanlah saudara. Hukumlah setiap orang yang berbuat kesalahan sesuai dengan kadar hukumnya. Satu cambukan kepada orang Muslim karena kebencianmu, akan mengantarkanmu ke dalam neraka.”

Ketiga, janganlah merasa puas dengan keadaanmu yang tidak pernah melakukan kezaliman. Lebih dari itu, didiklah para pembantu, sahabat, pegwai dan para wakilmu. Janganlah engkau tinggal diam melihat kezaliman mereka, karsesungguhnya engkau akan ditanya tentang perbuatan zalim mereka sebagana akan ditanya tentang perbuatan zalimmu. Umar bin Kaththab menulis surat kepada bawahannya, yaitu Abu Musa al-Asy’ary sebagai berikut : “Sngguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil yang rakyatnya merasa bahagia Sesungguhnya wakil yang paling celaka adalah wakil yang rakyatnya dalam keadaan paling sengsara. Oleh karena itu, mudahkanlah karena sesungguhnya bawahanmu akan mengikuti perilakumu. Perumpamaanmu adalah seperti binatang melihat rumput hijau, kemudian memakannya dalam jumlah banyhingga gemuk. Ternyata kegemukannya membawa kemalangan karena hal itu membuat dia disembelih dan dimakan manusia.”

Keempat, kebanyakan wakil memiliki sifat sombong. Salah satu bentuk kesombongannya adalah bila marah, ia akan menjatuhkan hukuman. Kemarahan adalah perkara yang membinasakan akal, musuh dan penyakit akal. Kemarahan merupakan Seperempat Kebinasaan. Jika amarah mendominasimu, maka engkau harus condong kepada sifat pemaaf dan kembali kepada sifat mulia. Jika hal itu menjadi kebiasaanmu, maka engkau sudah meneladani para nabi dan para aulia. Jika engkau menjadikan kemarahan sebagai kebiasaan, maka engkau serupa dengan binatang buas. Dari Abu Darda’ r.a. berkata ” Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatuamalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga. Rasullah bersabda ”Jangan marah, kamu akan masuk surga.”

Kelima, sesungguhnya pada setiap kejadian yang menimpa dirimu, engkau mesti membayangkan bahwa engkau adalah salah seorang rakyat, sementara selain dirimu adalah pemimpin. Dengan itu, apa yang tidak engkau ridha bagi dirimu sendiri, tidak pula akan diridhai oleh salah seorang Muslim. Jika engkau meridhai mereka dalam apa yang tidak engkau ridhai untuk dirimu sendiri, berarti engkau mengkhianati dan menipu bawahanmu. ”Siapa yang ingin selamat dari panas api neraka dan masuk surga, ia mesti – ketika datang kepadanya kematian-menemukan kesaksian dengan lisannya. Setiap yang dia tidak ridhai bagi dirinya sendiri, maka tidak seorangpun dari kaum Muslim meridhainya.”

Keenam, Janganlah engkau memandang rendah orang-orang yang memiliki kebutuhan yang menunggu di depan pintumu. Hati-hatilah terhadap mereka. Manakala salah seorang Muslim memiliki kebutuhan terhadapmu, maka janganlah engkau malah tidak memperdulikan mereka karena sibuk dengan ibadah-ibadah sunnh. Sebab,memenuhi berbagai kebutuhan kaum Muslim adalah lebih utama daripada menunaikan ibadah-ibadah sunnah. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz memenuhi berbagaiebutuhan rakyatnya. Ia kemudian duduk menyandar karena kelelahan Stelah itu ia masuk ke rumahnya untuk beristirahat menghilangkan kepenatan. Anaknya kemudian berkata kepadanya ”Apa yang telah membuat Ayah merasa aman sementara kematian bisa saja datang saat ini, sedangkan pada saat yang sama di depan pintu Ayah ada orang membutuhkan yang sedang menunggu sementara Ayah malah mengabaikan haknya?”. Umar bin Abdul Aziz berkata ”Engkau benar!”. Maka, saat itu juga Umar bangkit dan pergi ke majelisnya.

Ketujuh, janganlah engkau membiasakan dirimu sibuk mengurusi berbagai keinginan seperti ingin pakaian kebesaran atau memakan makanan yang lezat. Akan tetapi, hendaklah engkau bersikap qana’ah (keseimbangan dalam harta, tidak boros dan tidak kikir) terhadap seluruh perkara. Sebab, tidak akan ada keadilan tanpa sifat qana’ah. Umar bin Kaththab bertanya kepada seorang Salih ” Apakah engkau melihat sesuatu pada diriku yang engkau benci?”. Orang itu berkata ”Aku mendengar bahwa engkau pernah meletakkan roti di atas menja makanmu, dan engkau punya dua baju, satu dipakai untuk malam hari dan satu lagi untuk siang hari. Apakah selain itu ada sesuatu?”. Umar menjawab ”Tidak”. Orang itu berkata ”Demi Allah, kedua perkara ini tidak akan selamanya” .

Kedelapan, sesungguhnya engkau, jika memang mampu melakukan setiap urusan dengan penuh kasih sayang dan kelemah lembutan, maka janganlah melakukan dengan kekerasan dan sikap kasar. ”Ahli surga ada tiga: Pertama, orang yang mempunyai kekuasaan hukum yang adil dan bersodaqoh kepada kaum fakir, selalu taat kepada Allah. Kedua, seorang yang hatinya lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sanak saudara. Ketiga, orang sholeh yang menahan dirinya dari hal-hal yang kharom, mempunyai keluarga, tapi cintanya terhadap keluarga tidak mendorong untuk berbuat yang haram.

Kesembilan, hendaklah engkau berupaya dengan sungguh-sungguh untuk meraih keridhaan rakyatmu melalui cara-cara yang sesuai dengan syariah. ”Sebaik-baik umatku adalah orang-orang yang mencintai kalian, dan kalian mencintai mereka. Dan seburuk-buruk umatku adalah orang-orang melaknat kalian, dan kalian melaknat mereka” sabda Rasulullah.

Kesepuluh, janganlah engkau mencari keridhaan seorang manusia melalui cara-cara yang bertentangan dengan syariah. Siapa saja yang marah karena adanya pelanggaran syariah, maka marahnya tidak membawa bahaya. Mu’awiyah menulis surat kepada Aisyah r.a. agar memberikan nasihat dengan nasihat yang singkat. Maka, Aisyah menulisnya : Aku mendengar Rasulullah bersabda ”Siapa saja yang mencari keridhaan Allah walaupun manusia marah kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya, demikian pula manusia akan ridha kepadanya. Siapa saja mencari keridhaan manusia dengan cara dimurkai Allah, maka Allah akan murka kepadanya, demikian pula seluruh makhluk akan marah kepadanya”. Sepuluh pokok nasihat Al-Ghazali tersebut merupakan nasihat untuk pemimpin calon penghuni surga.

Leave a Reply