Home » Leadership » Kepemimpinan Gaya Bung Hatta

Ilmu ekonomi neoklasikal maupun manajemen konvensional, bagaimanapun juga adalah ilmu ekonomi dan manajemen yang solid. Ilmu ekonomi neoklasikal dan manajemen konvensional telah dengan utuh mewujudkan diri dalam buku-buku teks yang hebat dan sistematik, yang telah tersebar luas serta mendominasi pengajaran dan pendidikan ilmu ekonomi dan kepemimpinan hampir di seluruh dunia dan telah menjadi “bahasa dunia”. Ini telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, katakanlah sejak edisi pertama buku pengantar ekonomi yang diluncurkan oleh Paul A.Samuelson hampir setengah abad yang lalu. Buku ini hingga edisi kedelapan belasnya saat ini, berikut buku-buku teks sejenisnya, dengan kukuhnya telah memasyarakat di seluruh kampus kita. Maka terbentuklah mindset liberalisme ekonomi dan competitive (belaka) pada sarjana-sarjana ekonomi lulusan kampus-kampus kita. Leiberalisme berdasar individualisme atau “asas perorangan” yang melahirkan akhlak dan perilaku bersaing dan bertarung telah membudaya sebagai pola pikir pada ahli-ahli ekonomi kita. Sedangkan berdasar ideologi negara kita, berdasar undang-undang dasar kita, kita telah berketetapan untuk lebih menganut paham kolektivitas dan kooperativesme, atau “kebersamaan dan asas kekeluargaan” (mutuality and brotherhood) berikut segala aspek kelembagaan yang hidup menyertainya.

Kooperativisme teleh berkembang sebagai gerakan koperasi yang mengglobal yang diwakili oleh the International Cooperative Alliance (ICA) sebagai organisasi puncak bagi gerakannya sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Sugden, telah memberi angin bagi kooperativisme untuk di kenal oleh kaum ekonom maupun kepemimpinan mainstream yang berorientasi dasar kompetitivisme. Pandangannya yang disinggung oleh Amartya Sen dalam kerangka rasionalitas ekonomi, , telah mengingatkan kelompok mainstream itu bahwa paham kooperativisme memiliki legitimasi mendasar dalam pemikiran ekonomi maupun kepemimpinan.

Dengan menyadari perbedaan mendasar dari dua paradigma dan moralitas ekonomi yang dikandung oleh masing-masing, yaitu asas perorangan vs asas kekeluargaan, maka kita dituntut untuk dapat melahirkan koreksi-koreksi kreatif, pembaruan-pembaruan dan terobosan-terobosan inovatif dalam pengajaran ilmu ekonomi dan kepemimpinan. Menurut Sri Edi Swasono, ibaratnya paragraf demi paragraf dan bab demi bab harus kita kritisi secara mendasar. Hal ini harus kita lakukan sambil menunggu hadirnya uku teks baru yang lebih lengkap dan solid untuk menggantikan buku-buku teks neoklasikal konservatif-konvensional yang saat ini mendominasi kampus-kampus kita dan secara tidak sadar sudah masuk ke dalam jiwa kita. Kita semua bertanggungjawab untuk membentukkan suatu mindset baru (normative ideologis) pada diri para anak didik kita agar ilmu ekonomi maupun kepemimpinan benar-benar utuh sebagai ilmu moral. Ini merupakan tugas reformatif bagi kampus-kampus kita. Asas kebersamaan dan kekeluargaan yang diluluhlantakkan oleh kapitalisme (neoklasik), perlu dibangun kembali untuk menemukan kepemimpinan yang ampuh untuk perusahaan-perusahaan Indonesia. Kepemimpinan harus berdasarkan moral dan itulah kepemimpinan yang dikehendaki oleh Muhammad Hatta.

Leave a Reply