Kiat Sukses Menjadi Entrepreneur Bagi Orang Biasa (18)
By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Langkah keempat, setelah kita memiliki sikap mental positif, mempunyai mimpi dan telah memulai bisnis adalah bagaimana melambungkan bisnis tersebut. Untuk melambungkan bisnis kita butuh berpikir, berusaha dan berdoa lebih keras agar perusahaan kita mempunyai posisi yang baik dibandingkan perusahaan lain. Hal ini biasa kita sebut dengan menggunakan strategi.
Ketika itu kita tidak tahu bagaimana berstrategi, karena tidak punya ilmunya. Apa itu pemasaran, apa itu manajemen sumberdaya manusia, apa itu manajemen keuangan dan apa itu manajemen operasi, semuanya tidak tahu. Ilmunya kita temukan dalam perjalanan mengelola bisnis. Bagaimana supaya perusahaan tetap berjalan, tetap bisa menggaji karyawan dan tetap ada aktivitas itu juga sudah merupakan strategi.
Ketika pertama kali kami bersama kawan-kawan mendirikan Primagama, dengan hanya mendapatkan 2 siswa, maka kami berusaha mencari strategi agar mendapatkan siswa yang lebih banyak. Telah saya bahas sebelumnya adalah mengundang 3 tetangga dengan persyaratan tertentu. Bahasa sederhananya adalah sedekah. “Kamu ikut saja” kita mengajak. “Nggak ada biaya Mas” kata mereka. “Gratis..tapi syaratnya bawa speda motor” kita memberikan persyaratan. “Dekat kok. Jalan saja bisa Mas” jawab mereka. “Pokoknya kamu harus bawa sepeda motor” kami berharap. “Oh..ya..Mas” mereka bersedia. Setelah mereka masuk bimbingan, terlihat di depan kantor sejumlah 6 sepeda motor yang terdiri dari 2 sepeda motor siswa kita yang sesungguhnya, 3 sepeda motor siswa gratis dan 1 sepeda motor pengajar (tentor). Dengan menggratiskan 3 siswa yang merupakan sedekah bagi kami dan merupakan senjata pemasaran yang sangat ampuh. Bimbingan belajar yang kecil itu sudah ada aktivitasnya. Adanya aktivitas merupakan bagian pemasaran yang sangat penting, meskipun aktivitas itu masih sederhana. Hal ini juga membuat kita lebih percaya diri, sehingga saya sendiri sudah berani keluar ruangan dan nampang di depan kantor, karena sudah ada aktivitas. Dalam hati saya berkata “Lho.. ada siswanya kan..Ada yang ikut bimbingan tes kita kan”. Kemudian kawan saya mengajak untuk buka pada hari minggu. Luar biasa, ada 14 anak sebagian besar berasal dari Kudus mendaftar bimbingan belajar kami. Kepercayaan diri semakin meningkat.
Kita terus mencoba untuk membuat agar siswanya lebih banyak lagi. Strategi dalam bahasa kita yang kita lakukan adalah melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Peluang kita peroleh setelah adanya isu bahwa tes masuk perguruan tinggi negeri pada saat itu adanya soal yang dinamakan IPA/IPS Terpadu. Semua siswa SLTA bingung untuk menafsirkan apa itu soal IPA/IPS Terpadu, termasuk gurunya juga. Kita juga bingung, maka kita berkonsultasi ke Dinas Pendidikan. Dari hasil konsultasi tersebut akhirnya kita mempunyai sedikit gambaran tentang IPA/IPS Terpadu. Kemudian kita membuat soal IPA/IPS Terpadu menurut versi kita yang belum tentu benar. Kita mengundang siswa SLTA dengan mengunakan Tes Uji Coba UPA/IPS Terpadu secara gratis. Dapat ditebak, siswa yang berminat sangat banyak dan itulah kesempatan untuk memasarkan bimbingan tes kita. Sebelum tes ujicoba dimulai, kita melakukan promosi kepada peserta, tentang salah satu keunggulan Primagama dibanding Bimbingan Tes lainnya. Dari promosi tersebut terjaring 62 siswa yang mengikuti bimbingan tes Primagama. Strategi yang berbeda dengan bimbingan tes yang lain, ketika itu kita sebut sebagai strategi sentuhan unik.





