Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (3)

By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta

Kita telah belajar banyak dari tukang kayu dalam menjalani hidup, terutama dalam menyikapi anaknya yang menderita autis. Kita telah belajar bagaimana tukang kayu memandang anak sebagai titipan Tuhan yang tidak bisa ditukar dengan yang anak yang lain dan berusaha menjaga titipan Tuhan tersebut dengan baik. Kita juga telah belajar bagaimana tukang kayu tersebut menjalani hidupnya dengan penuh kesabaran, ketabahan dan penuh kasih sayang dalam mendapingi, mendidik dan mengobati anaknya dengan harapan anaknya sembuh di kemudian hari. Doa ia lantunkan setiap hari kepada Allah, karena Allah yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit, tetapi hingga kini anak itu belum diberikan kesembuhan.
Kisah tukang kayu tersebut mengingatkan saya kepada kawan saya yang juga mempunyai anak yang menderita autis. Kawan tersebut tiba-tiba berkunjung ke kantor saya. Setelah dipersilakan masuk oleh sekretaris saya, ia mengucapkan salam kepada saya dan sayapun membalas salam tersebut. Kemudian saya berjabat tangan dengannya.  Saya mempersilakan duduk dan menanyakan kabar keluarganya. Ia menjawab seperti biasanya baik-baik saja. Ia mengemukakan keinginannya untuk mengundang saya mengisi seminar Entrepreneurship di kampusnya. Ia telah membaca buku saya yang sederhana dengan judul SMART IN Entrepreneur : Belajar dari Pengusaha Top Dunia., yang memotivasinya untuk menjadi pengusaha dan ingin menularkan kepada mahasiswanya. Setelah berbicara panjang mengenai entrpreneurship dan bagaimana jiwa entrepreneurship tersebut tertanam pada mahasiswanya, ia mulai berbicara mengenai keluarganya.  Ia mulai bercerita tentang anak-anaknya. ”Anak saya yang kecil menderita autis Pak Yanto. Saya bersama istri sudah berusaha untuk mengobatinya dengan biaya yang banyak, tetapi belum diberi kesembuhan” kata kawan saya tersebut. ”Saya berdoa kepada Allah mudah-mudah putra Bapak diberi kesembuhan dari-Nya. Allah yang menurunkan penyakit, sekaligus yang menyembukan penyakit itu” saya menghibur. ”Saya berusaha saya kuat-kuatkan Pak Yanto, tetapi kadangkala istri saya merasa tidak kuat, karena mendapat cobaan yang berat. Saya juga berusaha untuk membesarkan hatinya untuk tetap kuat” kata kawan saya.  ”Andaikan saya yang menjadi Bapak, barang kali saya juga tidak kuat” saya mencoba memahami perasaannya.
Sejenak kemudian, ia melanjutkan ceritanya : ”Sebenarnya saya dan istri saya masih kuat Pak Yanto, tetapi kadangkala tetangga dan kawan saya memojokkan saya dan istri saya. Lebih-lebih orang tua dan mertua saya yang membuat saya semakin berat.” Kemudian ia menirukan apa yang dikatakan orang tuanya ”Kamu itu dosanya apa to nak, kok anakmu seperti itu”. Kawan saya tersebut tidak bisa menjawab dan merasa bertambah sedih. Memikirkan anaknya saja sudah bersedih, apalagi dikomentari oleh orang tua, kawan dan tetangganya. Saya dapat merasakan betapa sedihnya andaikata saya menjadi kawan saya tersebut. Kemudian saya berkata kepada kawan saya tersebut ”Sesungguhnya Bapak itu manusia pilihan Tuhan. Anak penderita autis itu hanya dititipkan kepada manusia pilihan saja. Tidak ditipkan kepada orang biasa, seperti saya”. Dengan mata berkaca-kaca kawan saya tersebut mengatakan ”Hanya Pak Yanto yang mengatakan seperti itu. Selama ini saya tidak pernah ada orang yang mengatakan seperti itu”.     Saya sangat beruntung bertemu dengan orang-orang pilihan Tuhan dan belajar dari mereka kecerdasan spiritual yang sangat tinggi, untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, manusia pilihan Tuhan.

Leave a Reply