Belajar Kecerdasan Spiritual dari Tukang Kayu (1)

By M. Suyanto, STMIK AMIKOM Yogyakarta
Kita dapat belajar kecerdasan spiritual dari semua orang, termasuk dari seorang tukang kayu. Tukang kayu merupakan seseorang yang bekerja dengan kayu. Mereka dapat membuat lemari, membangun rumah, maupun benda-benda lain dengan kayu. Ketika makan malam, istri saya bercerita tentang tentang salah seorang tukang kayu yang datang di rumah saya. Tukang kayu yang datang ke rumah saya adalah tukang kayu yang sedang mengerjakan almari buku pesanan keluarga saya. Tukang kayu di rumah saya tersebut di awasi oleh perancang almari yang mengerjakan proyek pesanan dari keluarga saya. Tukang kayu yang datang di rumah saya sejumlah empat orang. Merek menjadi tukang kayu, karena itulah keahlian satu-satunya yang mereka miliki. Dengan keahlian itu berusaha untuk bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Sejak pagi tukang kayu tersebut memasang almari di ruang perpustakaan keluarga saya. Bekerja secara teliti dan profesional dalam bahasa manajemen. Potongan almari tersebut dipasang satu demi satu. Ketika waktu istirahat tiba, tukang kayu tersebut diajak bicara istri saya. Ia mulai bercerita tentang keluarganya. Salah satu tukang kayu tersebut mulai berbicara dengan istri saya. ”Saya mempunyai anak satu Bu” kata tukang kayu tersebut. ”Oh putra Bapak satu ya” sahut istri saya. ”Saya semakin hari semakin sayang kepada anak saya yang semata wayang itu Bu” kata tukang kayu. ”Sebagai ayah memang harus begitu Pak” tambah istri saya.
Tukang kayu tersebut matanya mulai berkaca-kaca karena sesungguhnya anaknya yang semata wayang tersebut menderita autis. Anak penderita autis seperti seorang yang kerasukan setan, tetapi sesungguhnya tidak kerasukan setan ataupun gila. Selain tidak mampu bersosialisasi seperti hidup di dunianya sendiri, tidak peduli dengan orang lain dan orang lain yang di dekat dengannya hanya dianggap sebagai penyedia kebutuhan hidupnya. Penderita autis tidak dapat mengendalikan emosinya. Kadang tertawa terbahak, kadang marah tak terkendali. Dia sendiri tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Penderita autis memiliki gerakan aneh yang selalu diulang-ulang. Selain itu dia punya ritual sendiri yancg harus dilakukannya pada saat-saat atau kondisi tertentu. Seringkali keluarga terutama dituduh yang menyebabkan autis, karena tidak mampu mendidiknya. Pada hal autis bukan penyakit karena keluarga, sangat jarang autis disebabkan faktor genetis, Meskipun alergi memang bisa saja diturunkan, tapi alergi turunan tidak berkembang menjadi autoimun seperti pada penderita autis. Autis terjadi karena kegagalan pertumbuhan otak yang diakibatkan oleh keracunan logam berat seperti mercury yagg banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yg dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yg tinggi atau karena nutrisi yg diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya.
Dengan kondisi tersebut, maka untuk menjadi orang tua penderita autis ternyata dibutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan tidak semua orang tua mampu mendidiknya. Kemudian tukang kayu itu bercerita kembali kepada istri saya dengan wajah yang memilukan. “Andaikan anak itu sepeda motor, maka pasti sudah saya tukar dengan sepeda motor yang bagus. Tetapi Gusti Allah memberi saya seperti itu, saya tidak dapat menukarnya. Saya hanya dapat menerima dengan pasrah dan sabar Bu” kata tukang kayu kepada istri saya dengan mata yang berkaca-kaca.

Leave a Reply