Belajar Menjadi Entrepreneur dari Kaum Awsan

By M. Suyanto
Menjadi entrepreneur dapat belajar dari siapapun, termasuk dari Kaum Awsan. Kaum Awsan bertempat tinggal dan mendirikan kerajaan di Arabia Selatan (Yaman) dengan ibukota di Hagar Yahirr yang terletak di Wadi Markha, sebelah selatan Wadi Bayhan, yang saat ini dikenal dengan lokasi yang bernama Hagar Asfal.

Kerajaan Awsan merupakan salah satu kerajaan yang paling penting di Arabia Selatan. Kota kerajaan dinacurkan oleh raja dan mukarrib Saba’, Karib’il Watar, menurut catatan kaum Saba’ merupakan laporan kemenangan yang berhubungan dengan pembuktian secara nyata terhadap eksistensi kaum Awsan merupakan rute bisnis yang dilalui oleh kerajaan Minea, Saba’, Qataban dan Hadramaut. Kaum Awsan mengalami kemakmuran karena juga ikut mengendalikan rute bisnis para kafilah dagang yang melintasi Semenanjung Arabia Selatan dan kemudian juga rute laut. Produk bisnis yang bersifat internasional adalah frankincense dan myrrh. Pengembangan kedua produk tersebut dan rempah-rempah serta tanaman lainnya dimungkinkan karena sistem irigasi yang luas yang mengalir dari dam menuju lembah.

Berdasarkan keramik yang ditemukan oleh M. Saad Ayoub pada 1990-an dalam penggalian situs, diketahui kebangkitan kembali kota Hagar Yahirr tersebut diperkirakan akhir abad pertama sebelum masehi sampai awal abad pertama sebelum masehi. Wilayah sekitar 160,000 m² dikelilingi tembok dan dasar bangunannya dibuat dari batu bata merah yang telah ditulisi. Pembudidayaan tanaman bergantung pada irigasi yang mengalir setiap tahun pada musim semi dan musim panas, ketika mengalir menuju wadi, kemudian mengaliri ladang, meninggalkan lumpur tipis yang berasal dari debu yang dibawa angin yang menunjukkan pola kuno dari pemberdayaan parit dan ladang. Ditemukannya radiocarbon pada endapan di sekitar irigasi memberikan petunjuk bahwa irigasi tersebut mengandung air yang berlimpah, sehingga menyebabkan penduduk meninggalkan tempat tersebut, diperkirakan terjadi pada pertengahan abad pertama sebelum masehi. Dengan demikian sampai saat ini situs tersebut tidak pernah dibangun kembali.

Hagar Yahirr merupakan pusat kota yang sangat besar untuk Arabia Selatan, yang dipengaruhi budaya Hellenistik dengan candi dan sebuah bangunan istana yang dikelilingi oleh tempat tinggal yang dibangun dari batu merah dengan sebuah pasar dan sebuah caravanserai yang melayani kafilah yang menggunakan unta. Hellenistik merupakan budaya Yunani yang menyebar pada daerah jajahannya, yang dilakukan penaklukannya oleh Iskandar yang Agung pada abad ke empat sebelum masehi. Menurut Droysen, peradaban Helenistik merupakan gabungan dari peradaban yunani dengan peradaban Timur Dekat (kawasan Iran, Israel, Lebanon, Mesopotamia, Suriah, Turki dan Yordania). Satu dari rajanya pada saat itu hanyalah dibawah pemerintahan Yaman untuk memberikan penghormatan, dalam kehidupannya yang ditunjukkan dalam lukisan patung kecil menggunakan pakaian Yunani, yang berbeda dengan pendahulunya yang menggunakan pakaian gaya Arab dengan rok dan selendang. Ada beberapa prasasti Awsan menggunakan bahasa Qataban.

Lokasi Hagar Yahirr serupa dengan kota kerajaan kecil lainnya, yaitu di mulut lembah atau wadi (sungai yang telah kering). Ma’in di wadi Jawf, Ma’rib di wadi Dana, Timna di wadi Bayhan, Shabwa di wadi Irma dan Hagar Yhirr di wadi Markha. Saat ini wadi Markha merupakan salah satu daerah di Yaman untuk pemberdayaan tawon yang menghasilkan madu. Madu dari Yaman terkenal karena orisinalitas rasa, warna dan aromanya.

Madu bermanfaat dalam nutrisi dan pengobatan, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 68-69 : Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah : “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”?? ??”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Leave a Reply