Suyanto Consulting
  ;


Menyiasati Peluang; Belajar dari Kegagalan Sony
28 June 2006 | Topik: Tips & Trik Bisnis
PERUSAHAAN Jepang, Matsushita mengembangkan video VHS pada 1970-an dan kemudian melisensikan teknologinya. Sony mengembangkan video Betamax yang lebih baik dari VHS, tetapi gagal melisensikan teknologinya. Padahal menurut para pengkaji produk secara teknis sepakat bahwa Betamax merupakan produk lebih baik daripada VHS. Perekam Betamax menghasilkan gambar dan suara dengan kualitas lebih bagus dibandingkan perekam VHS. Betamax dapat merekam TV dalam waktu satu jam, tetapi untuk VHS membutuhkan waktu dua jam atau empat jam. VHS kasetnya lebih besar dan pitanya bergerak lebih lambat. Selisih waktu tersebut dapat digunakan untuk melihat film atau bermain game. Akhirnya standar dunia video adalah VHS dan Betamax mengalami kegagalan, yang merupakan pelajaran berharga dari Sony.

”Jika Anda tidak mengetahui seluk beluk hukum, maka Anda tidak mungkin melakukan bisnis di Amerika Serikat,” kata Akio Morita. Akhirnya Sony sangat hati-hati dalam menganalisis potensi terhadap masalah hukum sebelum mengeluarkan produk barunya. Prosedur ini merupakan bagian penting dalam mengembangkan produknya, terutama dalam teknologi dari perekaman video analog ke digital. Sebelum pita audio digital diluncurkan, pembuat perangkat keras dan perangkat lunak bekerja sama dalam membuat draft proposal yang berkaitan dengan isu-isu hak cipta.

Saat ini Sony menjadi perusahaan yang superior dalam teknologi audio visual yang tergabung dengan periperal komputer. Sony juga telah menciptakan media penyimpanan komputer, mulai dari floppy disk sampai CD-ROM dan DVD-ROM. Sony telah mengembangkan produk yang mengkombinasikan teknologi magnetik dan optik. Lebih dari itu, menciptakan layar komputer Trinitron dengan resolusi tinggi.

Kegagalan Sony berikutnya adalah ketika membeli Columbia Pictures dan CBS Records pada 1989. Hal ini dilakukan karena arogansinya terhadap Barat, agar Sony dikukuhkan sebagai penakhluk dunia Barat dari Jepang. Sony mengeluarkan biaya Rp 3,2 miliar untuk membiayai operasional filmnya. Kegagalan ini merupakan salah satu cacat dari Sony, yang merupakan salah satu perusahaan dunia yang inovatif.

Tetapi di balik itu, sesungguhnya Morita mempunyai tujuan lain, yaitu merupakan strategi untuk melindungi perangkat lunak yang kualitasnya tinggi agar dapat melengkapi produk perangkat keras yang merupakan kekayaan Sony pada abad 21. Sony telah siap untuk memicu sebuah reputasi yang kokoh sebagai pensuplai produk inovatif dan kualitas tinggi yang berhubungan dengan teknologi, misalnya perekaman magnetik, piranti optis, semi konduktor dan pengolahan sinyal digital. Sebagai tambahan, teknologi berbasis perangkat keras ini, membuat Sony mempunyai kemampuan menyatukan perangkat lunak dan perangkat keras sebagai cetak biru bisnis audio visual dalam abad 21. Sony membayar masa depan dengan kegagalan sebagai strategi.
Tanggapan Pengunjung
Roni Pramono M, 28 September 2006 12:13:43:
saya selalu terkesan dengan cerita - cerita bapak mengingatkan saya waktu masih dalam kelas bapak .
dan cerita - cerita bapak membangkitkan semangat dan inspirasi saya.
saya eks murid bapak angkatan 99 .
Tanggapan Anda
This item is closed, it's not possible to add new comments to it or to vote on it

Pesan Sponsor







PMB 2006/2007
Siapkan masa depan bersama STMIK AMIKOM "Yogyakarta"
pmb.amikom.ac.id

PINGIN NAMPANG DI WEB ?

Pusat layanan web murah dan handal
www.jogjawebcenter.com

BINCANG BINCANG BISNIS
Solusi bisnis Live setiap Selasa,pukul 16.30 di RBTV

MQ FM JOGJA
Media Bening Hati
www.mqradio.com  

TIME EXCELINDO

Pusat layanan web murah dan handal
www.TE.net.id 
 
JALA

Jaringan Alumni AMIKOMl
www.alumniamikom.org 

 


 

© M. Suyanto 2008.
sejak 23 Juli 2005